Oleh: rizky abrian | Februari 1, 2011

Rebo Wekasan , Did you know ?

hari ini, di daerah benowo , tepatnya di sumberrejo terjadi hilangnya 3 orang anak yang diduga terseret arus banjir tadi pagi, dua anak ditemukan selamat, sedangkan satu lainnya masih belum ditemukan.

 

berita ini aku dapatkan setelah mendengar telepon dari papa yang seharian berjaga di kelurahan bersama Tim SAR surabaya, adikku yang masih kelas dua SD langsung dimarahi mama setelah mendapat info dari papa seperti itu, kemaren adekku habis main ke sungai dan pulangnya menjelang magrib dengan keadaan basah,

akhir akhir  ini rasanya kok penuh bencana,  mulai banjir yang datang mendadak tanpa hujan, bencana di mesir (gag nyambung) , bencana pacar yang marah marah, bencana anak hilang, dan bencana lain pastinya yang melanda salah satu dari kalian.

sebelum maghrib tadi aku mendengar bahwa ada undangan dari masjid bahwa ada sholat bersama sekaligus acara tolak bala Rebo wekasan, aku sebenernya juga bingung apa itu rebo wekasan, baru kali ini aku tahu. berhubung ingin tahu dan juga karena tujuannya berdoa bersama dan kebetulan juga banyak bencana.

setelah berada di masjid dengan agenda :

sholat maghrib berjamaah,

sholat tolak  bala’

istighozah

sholat isya’ dan

sholat hajat.

dari maghrib hingga jam 8 malam, aku langsung googling mencari apa itu rebo wekasan. ini tradisi baru yang belum pernah aku denger sebelumnya.

setelah klik kanan kiri akhirnya saya dapat teks seperti ini ”

Apa yang dimaksud dengan “Rebo Wekasan” ?

Rebo Wekasan adalah hari Rabu yang terakhir pada bulan Shafar. Dari beberapa cara merayakan Rebo Wekasan ada yang mengganjal dalam pikiran penulis yaitu dengan cara melalukan shalat Rebo wekasan yang dikerjakan pada hari Rabu pagi akhir bulan Shafar setelah shalat Isyraq, kira-kira mulai masuk waktu Dhuha. Pada dasarnya Shalat Rebo Wekasan tidak ditemukan temukan adanya Hadits yang menerangkan shalat Rebo Wekasan.

Dalam Islam berbagai shalat baik wajib maupun sunnah telah disebutkan dalam Hadits Nabi saw secara lengkap yang termuat dalam berbagai kitab Hadits, namun shalat Rebo Wekasan tidak ditemukan. Shalat wajib atau shalat sunnah merupakan ibadah yang telah ditentukan Allah dan Rasul-Nya, baik tata cara mengerjakannya maupun waktunya. Tidak dibenarkan membuat atau menambah shalat baik wajib maupun sunnah dari yang telah ditentukan oleh Allah dan Rasul-Nya. Ibadah hanya dapat dilakukan sesuai dengan yang diperintahkan, jika tidak, maka sia-sia belaka.

Ada sebuah buku berjudul “Kanzun Najah” karangan Syekh Abdul Hamid Kudus yang pernah mengajar di Makkatul Mukaramah. Dalam buku tersebut diterangkan bahwa telah berkata sebagian ulama ‘arifin dari ahli mukasyafah (sebutan ulama sufi tingkat tinggi), bahwa setiap hari Rabu di akhir bulan Shafar diturunkan ke bumi sebanyak 360.000 malapetaka dan 20.000 macam bencana. Bagi orang yang melaksanakan shalat Rebo Wekasan atau shalat tolak bala pada hari tersebut sebanyak 4 raka’at satu kali salam atau 2 kali salam dan pada setiap raka’at setelah membaca surat Al Fatihah dilanjutkan dengan membaca surat Al Kautsar 17 kali, surat Al Ikhlas 5 kali, surat Al Falaq 2 kali dan surat An Nas 1 kali. Setelah selesai shalat dilanjutkan membaca do’a tolak bala, maka orang tersebut terbebas dari semua malapetaka dan bencana yang sangat dahsyat tersebut.

Atas dasar keterangan tersebut, maka shalat Rebo Wekasan tidak bersumber dari Hadits Nabi saw dan hanya bersumber pada pendapat ahli mukasyafah ulama sufi. Oleh sebab itu, mayoritas ulama mengatakan shalat Rebo Wekasan tidak dianjurkan dengan alasan tidak ada Hadits yang menerangkannya. Ada pula ulama yang membolehkan melakukan shalat Rebo Wekasan, dengan dalih melakukan shalat tersebut termasuk melakukan keutamaan amal (Fadhailul ‘amal).

Namun sikap yang baik terhadap shalat Rebo Wekasan adalah kembali kepada aturan bahwa semua ibadah didasarkan atas perintah. Sesuai dengan penjelasan yang telah diuraikan di atas, tidak ditemukan dasar perintah atau keterangan yang menjelaskan tentang shalat Rebo Wekasan atau shalat tolak bala, maka shalat Rebo Wekasan tidak perlu dilakukan. Bukankah semua shalat yang kita kerjakan baik wajib maupun sunnah dapat menolak bala? (aby)

 

itulah pengertian tentang rebo wekasan sebenernya, ya kalo saya sih boleh saja, kalo saya lebih menghargai keragaman budaya kita, terlepas ibadah yang kita laksanakan benar atau salah, saya masih berpendapat bahwa saya masih dapat mendapat satu pahala : melestarikan kebudayaan sebagai wujud  “cinta tanah air sebagian dari iman”

 

 


Responses

  1. adakah rasul mencontohkan sholat rabu wekasan.?
    adakah hadist yg memerintahkan melaksanakan rebo wekasan.?

    • sekedar renungan saja.
      Ini Indonesia Bukan Arab.
      kultur di Indonesia masih terlalu kuat.
      Bayangkan tanpa Walisongo dan Penyebar Islam lainnya yang menggabungkan islam dengan kebudayaan kita,
      islam hanya menjadi agama minoritas. sama seperti yang lain.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: