Oleh: rizky abrian | Februari 4, 2011

Novel, dan Film yang prematur

bacaan yang bagus selalu mendapat respon yang positif dari pembacanya,baik dengan segera membaca (walaupun dengan berbagai cara : pinjam, beli, cari donlodan gratis, fotokopi, dan lainnya.)
hingga membuat versi lain yang ceritanya sama seperti membuat sekuel film nya.

nah, kali ini aku ingin membahasnya karena pada hari itu aku kebetulan dikasih pinjeman temenku film film yang semuanya based on novel. mulai dari Ayat Ayat Cinta, Forest Gump, Harry potter, hingga sang pemimpi.

nah setelah melihat film film itu, memang sangat bagus apa yang ditampilkan , apa yang disampaikan, baik secara alur maupun cerita. semua bagus, ya jelas bagus lha wong sumbernya tinggal metik dari novel yang ada sehingga apa yang diharapkan para produser tercapai : film laris manis.

terlepas dari itu, saya melihat kembali kebiasaan membuat film yang based on novel itu di indonesia. terlalu prematur.

kenapa saya bilang begitu ? hal ini karena terlalu cepatnya segera membuatkan versi Filmnya akan membuat orang indonesia semakin malas membaca karena versi instannya sudah disediakan untuk mereka, daripada repot repot membaca, mending liat filmnya. hal ini justru semakin membuat kebiasan orang indonesia yang malas membaca semakin akut.

orang indonesia masa kini yang malas membaca yang seakan mulai menggeliat untuk membaca lagi seakan dimatikan langsung dengan munculnya film film yang seperti saya sebutkan tadi.

padahal dengan membaca lebih dahulu, orang indonesia pasti tahu bahwa versi novelnya lebih bagus daripada versi filmnya, ini karena imaginasi yang ditimbulkan buku melalui tulisannya membuat para pembaca seakan memiliki dunia “novel” dengan versi mereka, bukan di doktrin melalui film yang kadang tidak sesuai dengan penggambaran mereka.

sudah seharusnya novel novel indonesia yang bagus itu tidak selalu segera di filmkan, minimal menunggu 10 atau 15 tahun baru di filmkan, hal ini juga membantu penulis sebagai pemilik ide murni mendapatkan apresiasi yang setimpal dengan kerja kerasnya menciptakan karya itu.

bagaimana dengan para produser, novelis, movie mania , readers ???
pilih yang mana?


Responses

  1. Beritahu saya tulisan-tulisan baru melalui surel.
    +1


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: