Oleh: rizky abrian | Februari 13, 2011

Perkembangan Dialektologi

Perkembangan Dialektologi

Dialektologi banyak mendapat perhatian dari para ahli bahasa menjelang abad ke-19. Dua tokoh terkenal yang dianggap sebagai “bapak” ilmu geografi dialek adalah Gustav Wenker dan Jules Louis Gillieron. Wenker mengirimkan daftar tanyaan (kuisioner) kepada para guru di daerah Renia (Jerman) pada tahun 1876, sedangkan Gillieron di daerah Vionnaz (Swiss) pada 1880. Metode yang digunakan adalah metode pupuan (angket) lapangan untuk pembuatan atlas bahasa. Kedua penelitian inilah yang mengawali penelitian dialektologi yang kemudian mempengaruhi penelitian dialek di negara-negara lain. Berikut adalah gambaran singkat penelitian geografi dialek sesudah dan sebelum tahun 1875.

Masa Sebelum 1875.

Sebelum tahun 1875, tulisan-tulisan mengenai dialek hampir selalu dikaitkan dengan ilmu bahasa bandingan dan filologi, terutama bahasa-bahasa Indo Eropa. Tulisan-tulisan tersebut pada umumnya berakhir dengan adanya dugaan bahwa bahasa-abahsa atau dialek yang ditelaah tersebut berkerabat.

Penerjemahan naskah Decamerone ke dalam 12 dialek Italia pada tahun 1584 dilakukan dengan menggunakan metode pupuan sinurat (angket koresponden), berpengaruh besar terhadap terbitnya karya-karya sejenis setelahnya. Kemudian, metode pupuan lapangan dilakukan pertama kali oleh Martin Sarmiento (Spanyol) pada tahun 1730. Lalu ia menganjurkan para pemuda menguasai bahasa Latin melalui bahasa ibunya masing-masing, mengusulkan penyusunan kamus bahasa-bahasa Roman, serta memerhatikan bunyi untuk menentukan asal-usul kata.

Pandangan yang menginginkan penghapusan dialek diutarakan oleh pendeta Jean Baptiste Gregoire di Perancis yang melakukan pupuan sinurat, yaitu terjun langsung ke lapangan dengan menanyai informan untuk mengetahui pandangan orang mengenai dialeknya masing-masing, lalu, ia mengusulkan kepada Dewan Nasional untuk melenyapkan dialek pada tahun 1790. Pandangan pelenyapan dialek ini ditentang keras oleh para ahli sastra, yakni Charles Nodier, J.F. Schnakenburh, dan Pierquin de Gembloux karena akan mengurangi penguasaan terhadap suatu bahasa sebab tidak mempelajarinya dari dialek .

Perbedaan antara bahasa dan dialek sering kali dikaburkan dengan unsur yang bersifat politis. Gerakan kebangsaan di Denmark menjelang abad ke-18 yang diarahkan untuk menentang pengaruh Jerman telah memperkuat kesadaran kesatuan Skandinavia, hingga mendukung adanya penelitian dialek. Pupuan sinurat yang dilakukan oleh Kementerian Dalam Negeri Perancis dapat menjelaskan batas-batas bahasa Perancis yang membedakan dengan bahasa-bahasa lainnya dalam peta geografi. Kenyataannnya batas bahasa berbeda dengan garis perbatasan negara.

Kaidah fonetik dalam dialektologi dikembangkan kali pertama oleh Franz Bopp, yang kemudian diikuti oleh para peneliti lain, seperti Friedrich Diez, Brugmann, Osthoff, Braune, Sievers, dan Paul. Sementara itu, kemungkinan untuk membuat peta bahasa dikemukakan oleh Baron Claude Francois Etienne Dupin pada tahun 1814 yang mengeluarkan perintah untuk mempelajari dialek. Di samping itu, Dessire Monnier melihat adanya kemungkinan peta tersebut secara fonetik (peta fonetik).

Masuknya unsur folklore mendapat perhatian dari N.St. des Etangs pada tahun 1845. Bernadino Biondelli yang terbit pada tahun 1853 di Italia, bahannya dikumpulkan dengan menggunakan metode pupuan sinurat dan metode pupuan lapangan. Gagasan-gagasannya kemudian mempengaruhi kajian dialektologi Italia. Salah satu pendapatnya adalah bahawa bahan dialek harus dikumpulkan langsung dari tuturan tanpa menggunakan dokumen tertentu.

Masa Sesudah 1875

Masa sesudah 1875 terbagi atas aliran Jerman dan Perancis.

Aliran Jerman

Das Rhenischen Platt adalah buah karya Gustav Wenker, seorang filsuf Jerman pada tahun 1876. tulisan tersebut adalah hasil pemetaan fonetik bahasa rakyat di daerah Renia. Sampel dilakukaan dengan mengirimkan daftar tanyaan berupa 40 kalimat sederhana kepada para guru di daerah tersebut. Wenker mengumpulkan bahan dengan cara yang sama untuk daerah Jerman Tengah dan Utara pada tahun 1881 dan Jerman Selatan pada 1887.

Daftar tanyaan yang berisi 335 patah kata yang terdapat dalam 40 buah kalimat dalam bahasa satra Jerman. Metode yang dipakai adalah metode pupuan sinurat dengan mengirimkan daftar tanyaan tersebut melalui para penilik sekolah agar diteruskan kepada para guru yang bersangkutan. Akan tetapi, kecaman terhadap metode pupuan sinurat menimbulkan kecaman oleh Karl Haag. Langkah baru yang diambil adalah menggunakan metode pupuan sinurat dan pupuan lapangan sekaligus, yang dilakukan oleh Gustav Wenker dan Ferdinand Wrede. Hasilnya diumumkan dalam rangkaian Deutsche Dialektgeographie yang terbit pada 1908. Lalu, masalah fonetik juga lebih diperluas.

Wenker dan murid-muridnya kemudian menghubungkan antara sejarah dengan bahasa. Penjurusan ke arah geografi budaya dilandasi oleh kenyataan bahwa penelitian dialek di Jerman tampaknya dibatasi oleh faktor kesejarahan. Wrede meneruskan usaha-usaha Wenker yang meninggal pada 1991, yang kemudian menerbitkan buku pertama atlas bahasa Jerman. Wrede bekerja di sebuah pusat untuk atlas dan semua kegiatan penelitian dialek Jerman di Marburg yang didirikan pada 1920.

Pada tahun 1921 lembaga Marburg memprakarsai kelahiran atlas kata (wordatlas) atau geografi kata (wortgeographie). Wrede menerbitkan buku pertama atlas bahasa Jerman pada 1921. Arah lain perkembangan geografi dialek yang dikembangkan Wenker adalah atlas etnografi dialek. Metode pupuan sinurat yang dilakukannya kemudian disempurnakan dengan gambar-gambar yang memudahkan pembahan agar tidak salah mengartikan dalam daftar tanyaan.

Selain di Jerman, geografi dialek juga berkembang di beberapa negara lain, yaitu Swiss (atlas folklore Swiss), Belanda, dan Slowakia.

Aliran Perancis

Jules Louis Gillieron melakukan penelitian lapangan di daerah Vionnaz (Swiss) yang menghasilkan Patois de la commune de Vionnaz (Bas-Valais) (Paris, 1880) yang kemudian menjadi landasan penelitian-penelitian selanjutnya. Sasaran utamanya adalah gejala-gejala fonetik, yang kemudian lahir buah karyanya yang lain, Petit atlas phonetique du Valai roman (sud du Rhone) (Paris, 1880). Dalam penelitiannya Gillieron memilih 200 kata untuk menentukan kaidah fonetik. Kata-kata tersebut adalah kata-kata yang umum dikenal di suatu daerah.

Pada tahun 1887, pendeta P.J. Rousselot menulis “Introduction a l etude des patois” (Revue des patois gallo-romans). Salah satu gagasannya adalah setiap kata yang dikumpulkan hendaknya dilakukan dengan melakukan obrolan langsung, sehingga seorang peneliti harus mempunyai kemampuan meneliti, cara memberi keterangan, dan mengetahui masalah yang diteliti dengan baik.

Pengumpulan bahan untuk pembuatan Atlas linguistique de France(ALF) baru dimulai pada 1897 oleh Edmond Edmont. Dalam penyusunan kamus selama 4 tahun di seluruh Perancis tersebut, Edmont tidak mencari bahan di kota sebab orang di kota jarang menggunakan dialek. Di samping itu, Edmont hanya mengumpulkan bahan dari satu orang, meskipun ia menggunakan pembahan sampai empat orang. Jawaban yang masuk dimuat dalam peta yang menggunakan alih tulis fonetis.

Albert Dauzat menyarankan agar pengumpulan bahan didasarkan kepada daftar tanyaan umum yang sebagian besar diambil dari daftar tanyaan ALF dan sebagian lagi dari pertanyaan yang bertalian khusus dengan daerah penelitian. Karyanya: Nouvel atlas linguistique de France par regions pada tahun 1939.

Usaha-usaha yang dilakukan oleh para ahli dari Jerman dan Perancis terhadap dialektologi menyebabkan perkembangan yang pesat setelah tahun 1875. Istilah “aliran” hanya diberikan untuk membedakan metode yang dipakai. Aliran Jerman menggunakan metode pupuan sinurat, sedangkan aliran Perancis menggunakan metode lapangan. Perbedaan pandangan tersebut tidak menyurutkan usaha-usaha para ahli setelah masa tersebut terhadap ketertarikan pada bidang dialektologi. Hasil dari penelitian terdahulu, pada masa sekarang penelitian dialek difokuskan pada kata, bukan kalimat. Penulisan dalam bentuk fonetis juga masih dipakai sampai saat ini.dan kebudayaan.

SUMBER BACAAN

Ayatrohaedi. 1988. Dialektologi. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Departeman Pendidikan

http://thegarfield.blogspot.com/2007/09/sejarah-penelitian-dialek.html

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: