Oleh: rizky abrian | Januari 12, 2012

Shibuya’s jam

hujan lagi, tak aku kira hari ini benar benar penuh lalu lalang orang orang yang sibuk dengan urusan masing masing.  lalu lalang ini , kesibukan ini, di mana mana, seperti lalu lalang  orang orang di perempatan new york atau shibuya. benar benar lalu lalang yang ramai.

sama ramainya dengan hari ini. alarm model baruku ternyata hanya berhasil membangunkanku hanya untuk kemarin saja. hari ini, alarm handphone sony ericsson yang di setting pada pukul 6 pagi, dengan suara alarm lagu yang paling tidak aku suka, super junior, dan foto tampilan alarm wajah lidwine anzaska yang sedang cemberut dengan penuh totalitas. yang aku harapkan bisa membuat sebuah suasana seakan akan dia benar benar datang membangunkanku, ternyata tak berhasil.

aku malah terbangun karena hal lain. bau gosong, ruangan penuh asap, dan suara seperti minyak panas yang disiram air tiba tiba membuatku terloncat dari tempat tidur. bukan karena aku takut kebakaran, tetapi aku lebih takut terlambat karena pada pukul 7 ujian dilaksanakan, sedangkan pada saat pertama mataku terbuka, aku melihat sebuah horor, sebuah jam dinding yang berputar, menunjukkan pukul 6.35.

setelah melompat, baik tubuhku dan juga degup jantungku. ternyata otakku baru berpikir ulang : jam dinding di kamar aku percepat 20 menit. untunglah, setelah melihat jam dinding di ruang tamu ternyata seperti yang aku harapkan. nafas lega meski bau tersembur dari mulutku. nyawaku yang tiba tiba mendapat download dengan kecepatan tinggi tiba tiba melambat kembali.

perlahan, aku benahi rambutku, bajuku, lalu kembali ke kamar, membenahi tempat tidur yang penuh asap karena di dapur ternyata kakakku meninggalkan tahu yang digoreng sehingga gosong segosong gosongnya. aku masih melihat sisa sisa perbuatannya yang coba ditutupi dengan segera membuang tahu dan mencuci wajan secepatnya, tapi kerak hitam yang khas makanan gosong masih terlihat mataku.

di jalanan, dengan telinga dijejali “adelaide sky” adhitia sofyan, aku melaju dengan tenang pada kecepatan 70 kilometer, sehingga apapun di kanan kiriku seperti layar yang ditarik kebelakang sedangkan aku seperti naik kuda kudaan koin.

di kampus lalu lalang itu terjadi, joglo,parkiran,lorong yang biasa aku buat duduk duduk sambil membunuh waktu pun sudah tak bisa dibuat duduk lagi. semua penuh, lalu lalang seperti shibuya atau new york.

ujian hari ini sudah dilewati,terlalu mudah aku kira, apalagi dengan adanya momen dosen yang meninggalkan kelas ujian selama 25 menit hanya karena bosan menjaga mahasiswa yang itu itu saja. terlalu cukup waktu yang ada untuk  mengerjakan soal dengan membuka buku panduan yang tidak mungkin dilakukan jika dosen itu mau bersabar menunggu di kelas.

setelah ujian,lalu lalang itu tak berhenti juga, aku terbawa arus terombang ambing lalu lalang, entah itu untuk mencari jajan di kantin, mencari teman satu kelompok tugas ujian, atau mencari lidwine anzaska. aku biarkan diriku terombang ambing lalu lalang dan berharap paling tidak salah satu dari itu bisa kutemui, namun nyatanya tidak.

aku lelah, ingin ke ruang BEM untuk beristirahat, tapi di perjalanan aku berpapasan dengan hal yang simpel, tapi orang orang tak menyadarinya, ada seorang temanku yang berpapasan,wanita yang menangis. aku tak berani menanyakannya, tapi aku tahu dia benar benar dipenuhi beban berat.

ya, beban berat menjadi santapan rutin pada minggu minggu ini, minggu ujian. semua sibuk,tak ada waktu tak berlari,bergerak, dan mengejar deadline. deadline tugas dan ujian yang materinya tak dipelajari sepanjang semester ini.

akhirnya aku sampai di ruang bem, gelap, sepi, hanya ada seorang yang sedang menghadap komputer sendirian. ternyata dia adalah temanku yang menangis tadi. aku masuk saja tanpa dosa dan coba bertanya sekadar menunjukkan perhatian untuk turut bersedih, apapun itu.

ternyata dia menangisi tugas puisinya yang tidak segera selesai, tugas membuat aransemen lagu dari puisi yang 3 hari lagi harus dikumpulkan, di tangannya memegang hape sambil sms seseorang yang bisa aku baca. ternyata tak ada teman yang mau membantu membuatkan lagu untuknya, teman satu kelompoknya tak ada yang bisa bermain musik.

sebenarnya aku dimintai tolong, tapi karena aku sendiri ada tugas, maka dia mengerti kalau sama sama sibuk, sehingga dia menungguku selesaikan ujian terlebih dahulu, tapi aku tidak menyangka masalah seperti ini menjadi beban yang berat baginya.

simple mungkin, tapi untuk ukuran gadis yang dalam pikirannya nilai adalah segalanya adalah hal yang diujung tanduk jika dalam waktu seperti itu tugas belum selesai.

dia berlalu, malu karena airmatanya.aku tetap di ruangan ini, gelap, dingin,dan sepi. aku menerawang langit langit,beberapa menit, tiba tiba datang temanku yang lain. membawa gitar. yang langsung aku rebut dan mainkan seadanya. dengan lirik yang hanya lalala dan kord semau hati mengalunlah melodi, A minor dan D minor untuk perasaan sedih, cmajor7 dan bm7 untuk perasaan tenang, kord kesukaanku. sambil melenting jari jari memainkan dawai serasa dunia sedang ditinggal pergi penduduknya dan tinggallah aku sendiri.

“he,mas, maine enak ngunu! ayo gawekno aku lagu po’o. . ”

Terhenyak, dunia yang tadi sepi kembali pudar dan aku pun kembali ke dunia nyata.

“iya ayo, mana puisinya?”

dan setelah menyabet buku puisi dan mencari beberapa puisi yang pendek, dengan rima yang jelas sehingga mudah untuk menentukan nada nadanya, dalam waktu tak kurang 15 menit selesai sudah lagu dari puisi yang dibuat sejadinya.

dan ternyata temanku yang dibuatkan lagu tadi malah keranjingan karena lagu tadi katanya bagus, entah di telinganya saja atau tidak. menurutku lagu buatanku biasa saja.

dan akhirnya aku dipaksa untuk mengulang ulang lagu itu bahkan hingga direkam di ponselnya. lama kelamaan aku malah keranjingan dan mengambil beberapa puisi lagi untuk dinyanyikan.

warna langit di balik jendela ruang bem yang kelabu mengisyaratkan untuk segera pulang. sebelum hujan turun dan membuat aku harus berdiam lebih lama di kampus atau kebasahan menuju pulang. tapi telat, ketika langkah terakhir menuju keluar gedung, gerimis sudah turun.

tapi ada yang aneh, lalu lalang sudah benar benar hilang. lengang. tak ada lalu lalang seperti shibuya atau perempatan new york yang aku lihat tadi pagi. dan gerimis bersama sepi yang mendadak buatku menjadikan perasaan yang sangat terasa.

aku berdiri di depan gedung, menyaksikan langit mendung, satu meter dari tetesan hujan dengan derau yang lembut. beberapa serpihan hujan tipis menerpa wajahku. kubiarkan aku terpejam merasakan perasaan ini. hujan adalah di saat semua perasaan menjadi lebih jelas dalam pikiran sehingga terkadang orang orang menerjemahkan hujan sebagai melodi rindu karena gambaran yang begitu jelas di pikiran karena hujan.

“Lapo mas?”

langsung saja gitar yang dibawa temanku yang sedang berdiri tiba tiba disampingku aku ambil.

“ayo gitaran nag lorong ae!”

bingung, dia ikuti saja kemana aku pergi.

dan menjelang senja yang berwarna abu abu ini, aku bermain gitar khas ku. lalala. dengan kord yang sesuai hati, temanku menyanyi sendiri ditemani rekaman lagu puisinya tadi.

aku membayangkan lagi di lorong ini, lalu lalang tadi, orang orang berjalan menembus diriku. dari arah yang satu dan dari arah yang lain juga. aku bisa merasakan langkah mereka yang terburu,gelisah, atau biasa biasa saja. aku merasakan percakapan percakapan mereka yang membahas ujian kali ini, membahas tugasnya, membahas pacarnya,membahas kehidupan hari ini.

seperti pelangi. . . setia. . .  menunggu hujan reda. .. . . lalala”

dan dengan bertambah pelannya hujan, bertambah pelannya nyanyian “lalala” ku, semakin pudar pula lalu lalang yang berjalan menembus diriku. waktunya pulang.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: