Oleh: rizky abrian | Januari 13, 2012

Kloso Pandan Malfunction

tempat tidur yang empuk ditambah kipas angin yang lembut adalah alasan utama kenapa aku tak boleh berada di kamar pada sore hari. rasanya seperti anak kecil diisik-isik. hati jadi tenang dan ingin waktu ini berhenti sejenak sehingga rasa yang nyaman ini tidak segera berlalu.

“heh! solat!”

nah,aku bilang apa,kenikmatan dunia memang hanya sebentar lamanya. belum 5 menit aku merasakan ketenangan ini sudah diusik kenyataan dunia.

berangkatlah perlahan aku menuju mushola, langit mulai dilukis warna warni olah Sang pencipta semesta. ada warna ungu, ada warna merah, dan sentuhan terakhir,sedikit sapuan warna jingga di batas batas cakrawala.

suara tarhim dari masjid menjadi backsound yang pas ketika aku berjalan menuju mushola sambil menyaksikan Sang pencipta semesta menyelesaikan lukisannya. sisa-sisa hujan dan jalanan basah membuat pertunjukan ini serasa lebih hidup.

aku masih bingung mengapa mama menyuruh aku membawa kain ini, kain pel yang kering disuruhnya aku membawa dan katanya diletakkan di mushola. ah, mungkin untuk cadangan kain pel di mushola yang sudah kotor. pikirku.

ternyata mushola sudah ramai dengan orang orang yang tidak duduk dan i’tikaf melainkan malah membawa kain dan pel pelan. ketika aku masih di kampus, di rumah terjadi hujan angin, tak mungkin hujan biasa bisa membuat banjir mushola.

kain pel yang aku bawa ternyata ini maksudnya, untuk membantu mengepel. dan setelah mengepel selesai, adzan sudah dikumandangkan, sajadah-sajadah basah diletakkan di atas tikar pandan, tikar pandan yang masih baru karena baru sekali dipakai. dipakai untuk membungkus jenazah almarhum tetangga sebelum dimakamkan.

melihat tikar ini aku jadi ingat mas dani yang pernah berkunjung ke rumahku. dengan gembira masuk ke rumahku namun pada saat melihat ruang tamu tiba tiba wajahnya berubah.

“i, itu, kloso pandan?”

“iya,knapa?”

“gag, gag papa kok” jawabnya sambil tersenyum kecut.

ternyata sepulang dari rumahku baru aku di ceritakan bahwa mas dani pernah di hantui sesosok wujud yang berbentuk tikar pandan tergulung, yang muncul di meja makan rumahnya pada tengah malam. penasaran dengan tikar itu mas dani mendekatinya dan tiba-tiba tikar itu bangun, seolah olah ada manusia di dalamnya. mas dani yang tahu kalau tikar pandan itu digunakan untuk membungkus mayat sebelum dimakamkan,langsung tumbuh paranoidnya terhadap benda itu.

lalu ada hal yang aneh lagi yang muncul di pikiranku, ini tentang papaku. dua tahun ini papaku suka mengoleksi (kalau boleh saya anggap begitu) kloso pandan.  dan anehnya adalah kloso pandan  bekas pakai membungkus mayat. keaneahan ini karena dalam beberapa tahun ini, ada beberapa tetanggaku yang meninggal, pastinya kloso pandan itu hanya digunakan sekali karena kebanyakan warga juga takut memakai barang bekas pakai orang mati. apalagi barang semacam itu.

entah apa yang ada di pikiran papaku, mungkin logika beliau sudah menghegemoni semua rasa takutnya. katanya, kloso enaknya kayak gini kok malah tidak ada yang mau, padahal dibuat tidur enak. tak pernah dibayangkan oleh beliau tentang hantu hantu yang mungkin bisa tiba tiba membungkus tubuhnnya atau mungkin tiba-tiba muncul di ruang makan seperti yang dialami mas dani.

sajadah sajadah basah yang diletakkan di atas kloso pandan tadi malah dipindahkan ke jendela jendela, lalu diambil oleh papa kloso pandan yang masih tergulung ke depan. persis di belakang tempat imam.

semua melongo, mungkin dalam benak mereka papa saya sudah terlalu berani untuk memakai kloso pandan yang belum 7 hari ditinggalkan sang empunya, almarhum tetangga saya. padahal semua orang tahu alasan mengapa kloso pandan itu langsung diletakkan di mushola seusai pemakaman. semua tak ada yang mau memakai. sebenarnya papa ingin mengambilnya untuk dibuat leyeh leyeh, tapi beliau merasa itu bukan haknya, itu hak mushola.

dan karena alasan orang orang yang mungkin merasa salah juga kenapa harus ditaruh mushola, sekarang orang orang harus merasakan akibatnya. sholat beralaskan kloso pandan anget. istilah ini aku buat sendiri karena masih “baru dipakai”. entah bagaimana nanti pikiran orang orang ketika sholat. apakah memikirkan dadar gulung yang bangun sendiri atau mereka sendiri yang menjadi dadar gulung.

aku tak bisa membayangkan kalau mas dani ada disini, tau tentang kloso pandan anget ini. dan terpaksa harus sholat dengan beralaskan kloso pandan ini!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: