Oleh: rizky abrian | Januari 14, 2012

Ketika Adhitia, dan Efek Rumah Kaca dipenjara.

pada speaker sonic gear, adhitia sofyan terkurung di dalamnya. untuk membunuh kesepian,ia hanya bisa bermain dua album yang tertera pada aplikasi jet audio yang nongol di monitorku.

aku yang rebahan di kasur sambil menangkap petikan gitarnya adhitia satu demi satu,perlahan merasakan ada awan mendung yang merasuk lewat kusen pintu kamar. berbaris lambat satu demi satu lalu berkumpul di langit langit kamar.

di sebelah kanan kasur yang aku tempati tidur,turun gerimis. pelan pelan seirama dengan petikan gitar adhitia yang juga mengalun lembut. aku masih melihat langit langit kamar tepat diatasku yang tidak turun hujan, awan awannya berputar putar pelan seperti terbawa angin dari kipas angin kamarku.

hujan gerimis di langit langit kamar tepat stabil. sprei kasurku berubah menjadi rumput rumput yang bergoyang goyang. aku memejamkan mata. awan awan pembawa gerimis berangsur angsur keluar lewat kusen kamarku. setelah membuka mata kembali, awan tinggal kabut yang perlahan hilang berbarengan dengan semakin pelannya suara gitar yang terkurung dalam speaker.

muncul pelangi,kucoba tanganku menyentuhnya, rasanya lembut. seperti cahaya tapi luntur seperti asap ketika  terkena tangan. lalu pelangi kembali lagi ke bentuk setengah lingkaran dalam beberapa detik.

asik memainkan pelangi, aku menarik nafas panjang. lalu dengan cepat semua yang ada terhisap keluar melalui kusen pintu kamar dengan cepat. aku teringat kembali akan tugasku.

mata kuliah puisi semester ini benar benar kesukaanku. dosen datang semaunya, tanpa ada absen, datang membacakan puisi,mempresentasikan teori tentang puisi, dan terakhir, bagian yang aku suka. Tugas akhir.

sang dosen menyuruh untuk membuat sebuah musikalisasi puisi untuk tugas akhirnya. musikaliasi puisi murni, yaitu puisi yang dilagukan, bukan ditambahi dengan teatrikal ataupun tarian tarian ketika membaca puisi, apalagi membaca puisi diiringi musik.

sebenarnya aku sudah ada gambaran seperti apa laguku nanti. inginku sebuah lagu dengan perpaduan tiga musikus idolaku. yang pertama aku ingin lagu itu lembut seperti adhita sofyan yang memainkan lagunya dengan tenang. menurutku di bentuk seperti inilah seharusnya kita menikmati lagu. lembut tenang, sehingga bisa dirasakan jiwa dari lagu itu.

kedua aku ingin lagunya nanti memiliki kekuatan lirik dan pesan seperti efek rumah kaca. penuh makna dan mengena secara samar. seperti pisau di balik selimut. terlihat lembut tapi terasa ketika sudah menyelimuti tubuhmu. lirik lirik efek rumah kaca selalu punya rahasia baru setiap kita buka tiap kata-katanya.

dan yang ketiga aku ingin laguku nanti unik dan berkarakter seperti the cranberries . walaupun suara penyanyinya nanti tak seperi doloris o’riordan, tapi paling tidak punya karakter lah. jadi bisa terlihat beda daripada musikalisasi puisi milik kelompok lainnya. aku masih ingat bagaimana “bosnia” yang berhasil memainkan kord gitar F dengan Dm secara nikmat. keunikan ini menurutku yang membuat karakter cranberries, dan membuat mereka menjadi  mendunia hingga sekarang. apalagi bagian “When do the saints go marching in? “.

setelah setengah jam berdiam diri,15 menit membaca puisi yang akan dibuat lagu, ditambah dengan setengah jam lagi untuk membuat lagu. jadilah tiga rekaman kasar yang nanti akan aku tunjukkan pada teman satu kelompokku .

tapi setelah aku dengar lagi, lagu dari puisi yang berjudul Requiem, seharusnya berirama lembut,tenang,damai, dan berbau bau perpisahan.  ini malah tidak sesuai harapan. lagunya terdengar sedih memang, tapi terkesan lebih nge-blues dengan tempo cepat dan tinggi.

malah kata teman temanku ketika aku tunjukkan hasil rekamannya, ada yang bilang “kok lagunya nge jazz begini?”. padahal aku tak sempat memikirkan irama irama jazz waktu membuat lagu. sempat ada usulan untuk membuat lagu baru, tapi teman teman sudah malas. takutnya nanti malah ribet,belum lagi tugas tugas lain belum selesai. ya sudahlah pakai yang ini saja.

kampus mulai berubah fungsi. laptop dan buku di ganti gitar,bongo, dan jimbe .kelas kelas kosong menjadi studio dadakan, studio sastra menjadi tempat rebutan. semua berlatih dengan lagu buatan mereka masing masing.

kadang kalau aku latihan sering terdengar lagu lagu dari kelompok lain yang juga dimainkan.  dari yang aku dengar, lagu yang mereka ciptakan semua terpengaruh dari apa yang mereka dengar.  ada yang mirip ST 12, ada yang mirip Kerispatih,bahkan  ada yang mirip “demi Waktu’ nya ungu. Dan akibat Penguasa dunia musik yang terlalu dalam bermain dalam monopoli musik di Indonesia, lagu mereka tak jauh jauh dari lagu yang biasa diputar di TV setiap pagi.

padahal di Indonesia banyak band band aliran indie yang prestasi dan kualitasnya jauh melebihi apa yang diputar setiap pagi di TV. Mocca, the S.I.G.I.T, E.R.K ,White Shoes and The Couples Company beserta band band indie berkualitas lainnya seharusnya lebih pantas muncul di tempat itu. meskipun indie bukan berarti kualitas tidak bisa berbicara. lihat saja bagaimana doel sumbang juga bisa terkenal meskipun indie.

sudahlah, pikiranku terlalu banyak berjalan kemana mana. lagu puisi ini memang sudah jadi. latihan memang sudah. tapi seminggu latihan hanya menghasilkan penyanyi penyanyi yang baru hapal reff nya saja.  aduh!


Responses

  1. Tertarik merasakan karyamu juga, Kak.
    kalo boleh, share juga disini. Sama-sama merasakan lagu ciptaanmu


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: