Oleh: rizky abrian | Februari 16, 2012

Ponsel

menunggu pesan darimu,

adalah mendengar tiktok jam berdering rindu.

menari jari jari menggelitik di hati.

menyusun kata kata , huruf yang lepas tulangnya.

 

menunggu pesan darimu,

mendengar nada getar meninggi yang berirama sesak di dada.

tombol tombol nadi yang ditekan.

jauh semakin dekat rasa bergelora.

 

menunggu pesan darimu.

yang tak tentu sampai,

semua yang tak terkirim,

esok sudah menjadi duri.

 

mungkin dengan tulisan yang benar, segala sesuatunya bisa dipahami. dirimu bisa mendengar dengan kepala yang dingin, yang pasti kamu tak akan merasa sesat karena aku sendiri tak sedang ingin berdebat. ini hanya penjelasan, dengan sejujurnya, tak lebih.

maafkan aku, hanya itu intinya, semua penjelasan hanya agar kau tahu. bahwa tak ada sebiji bayam pun niat untuk melukaimu.

tentang hari ini,rasanya aku ingin berharap kita tak pernah mengenal teknologi sayang. semua dibuat begitu mudah dan cepat, sehingga keterlambatan adalah sesuatu yang sulit di toleransi. kita jadi budak kemajuan yang semakin lemah dalam menunggu,tak pernah berharap harap cemas.

kita semua menjadi ahli telepati, dengan karakter yang dibatasi, itupun jika kita sudah mengisi pulsa. tapi kenyataannya pesan kita sering tak diantar tepat waktu,sedang kita sudah sangat ingin bertemu. buruknya, kita hanya bisa menunggu, sembari penyedia jasa pesan kita bermain main dengan amanahnya.

perasaan menjadi korban permainan mereka, padahal kita sedang serius menunggu. aku kadang berfikir, apa manusia sekarang begitu lemah, karena semua urusan hidup hanya tinggal pijit dan tekan?  pernyataan ini tak hanya untukmu, ini juga untukku dan kita semua.

lalu aku jadi ingat, tentang cerita teman teman fotografi,pada saat aku masih baru disana. semua selalu bercerita bahwa memotret jaman sekarang terlalu mudah,semua bisaasal jepret langsung tahu hasilnya, jelek tinggal hapus ulangi lagi. tidak seperti pada saat jaman masih menggunakan film, semua harus dihitung dengan cermat agar bidikan kita tidak kabur, over , ataupun under, kita pun selalu berharap harap cemas, apakah bidikanku jadi atau tidak, jika jadi,baguskah ia? kita lebih terbiasa untuk bersabar, karena harus menunggu film film itu keluar dari kamar gelap untuk tahu bagaimana hasilnya.

sama halnya dengan mengirim surat, kita harus membuat kata kata yang tepat, sebanyak mungkin yang bisa kita sampaikan,karena surat pada saat itu adalah media penghantar kabar, pengobat rindu untuk kekasih kekasih yang terpisah jauh.dan juga perjuangan lebih berat karena harus mencari perangko,menulis alamat, hingga mengantar ke kantor pos. lalu menunggu balasan, yang biasanya membuat rindu menjadi berkali kali lipat karena dibumbui rasa cemas. tidak seperti sekarang, bahkan tukang pos pun mengirim lewat ponsel. kita semakin berbeda karena surat tak seperti pesan melalui ponsel yang sedikit, kita serasa bicara dengan acuh. cepat, pragmatis.

maafkan aku sayang, kata kata yang aku susun hanyalah sebagai penyesalan yang terdalam atas semua ketidaksengajaan. samudra pun tunduk kepada bulan dalam pasang surut, apakah kita, manusia, tidak bisa memaafkan dalam ketidaksempurnaan ?

sekali lagi , maafkan aku sayang.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: