Oleh: rizky abrian | Februari 19, 2012

ucapan yang sulit sampai.

waktu aku menanyakan keinginanku untuk kuliah dua jurusan, satu di sastra indonesia, tempaktu belajar sekarang. dan menambah satu lagi di jurusan musik. mamaku langsung menjawab, dengan sebuah cerita.

dulu, waktu kalian semua masih kecil, kakakmu, juga adikmu. semua sudah kelihatan bagaimana bakatnya nanti ketika sudah besar. begitu juga dengan si poyan, keponakanku. cucu pertama orang tuaku.

kakakmu itu sebenarnya waktu kecil suka sekali menari, sudah kelihatan bakatnya sejak SD. tapi sayangnya waktu mulai SMA entah knapa mulai tomboy. jadi kakakmu tidak jadi di les kan menari. dan sekarang sepertinya bakatnya sudah tidak mungkin diteruskan lagi.

ya, aku tahu, usia kakakku sekarang sudah 26 tahun. sudah memiliki suami dan anak. tak mungkin lagi untuk mengejar cita cita mamaku untuk menjadikannya seorang penari lagi.

waktu benar benar begitu singkat, bahkan untuk mencari sesuil kesempatan kedua pun tak sempat.

adikku, waktu masih 1 SD sudah suka menjadi pusat perhatian, meski kecil ia suka sekali menjadi bos, dan teman temannya yang lebih besar pun tak menunjukkan keberanian di hadapan adikku. jadi mau mau saja disuruh kesana kemari oleh adikku. selain itu adikku begitu menggilai menjual barang barang, bahkan terhadap barang barang yang belum dibeli selalu dibayangkan keuntungannya ketika nanti dijual lagi.

sepertinya mamaku akan memasukkan dia kuliah di IPS, melihat kemampuan matematikanya, dan menurut perkiraanku, kalau memang bakat ini terus bertahan. ia akan masuk jurusan ekonomi atau manajemen. kalupun tidak pastinya ia tak akan bekerja jauh jauh dari bidang itu.

dan keponakannku, yang saat ini masih 4 tahun, sudah sangat menunjukkan antusiasmenya pada musik. umur 2 tahun sudah suka kelothekan. akhirnya dibelikan berbagai macam alat musik mainan. mulai dari drum kecil,terbangan, suling mainan. yang akhirnya tetap rusak, sebelum ia bisa menggunakannya dengan cara yang benar pada kami semua. betapa beruntungnya.

yang terakhir diceritakan, tentang diriku. jelas sekali kenapa yang terakhir sendiri diletakkan aku sebagai cerita akhir. beliau ingin membuat kontekstual yang jelas ketika berbicara denganku, dengan cara menempatkanku pada cerita terakhir.

pada usia 3 tahun, dikisahkan oleh ibuku kalau aku sudah bisa mengeja kata . meski sebatas a-na, i-bu, atau kata kata yang sederhana pada berbagai kertas ataupun kardus susu. iya, aku memang masih ingat bagaimana mama mengajariku membaca dari kardus susu. itu masih 3 tahun tapi memori itu satu satunya yang masih jelas kuingat, selain aku yang ketakutan karena dikenalkan wayang, pada usia yang sama.

setelah itu pula, cerita mamaku berlanjut pada aku yang pada waktu SD, setiap dibelikan buku baru selalu habis pada hari itu juga. selalu seperti itu katanya, hingga aku lulus SD. aku sendiri lupa kenapa bisa seperti itu. tapi yang jelas, it u adalah bukti yang jelas untuk mamaku, bahwa aku memiliki minat dan bakat pada bahasa. just that, there’s nothing else.

dari cerita itu aku tak berani menjawab atau membantah lagi, mamaku semakin tegas dengan mengucapkan kalimat terakhir : selesaikan yang ada dulu.

aku diam, harapanku untuk menjadi kuliah dua, seperti sujiwo tedjo atau emha ainun najib. sepertinya harus ditunda, dan hibernasi di dalam kamarku. sendiri bersama gitar,dan laptop yang berisi adobe audition.  

kita hanya anak, yang tak pernah bisa memberi kebaikan apapun. dan tak bisa meminta kebaikan apapun, seperti keinginan terdalam kita. biar yang melahirkan kita memberi yang ia bisa. kita hanya perlu tunduk dan bersyukur.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: