Oleh: rizky abrian | Februari 22, 2012

bossa

klentang klenting gitar klasik tanpa distorsi keras, beat mengalun seperti sungai di negeri negeri yang tenang, alur yang seindah gemericik  venesia tengah malam. serta sentuhan simbal yang lembut dan empuk, pas di telinga dan hatiku yang sedang lelah. ingin di treatmen dengan nada nada yang tidak menghabiskan banyak energi. itulah bossanova.

mendengarnya lagi seperti kembali pada sebuah masa, dimana penuh perasaan yang dalam, menikmati setiap petik string yang menyendiri di tiap fret. mendengarnya berulang ulang, mencari nada yang terlupa, yang menjadikan jenis lagu ini sederhana,penuh warna.

saya memang bukan pecinta alunan keras, apalagi untuk di kamar. ketika sedang asik tiduran, melihat atap kamar, membayangkan cirrus yang lembut, berbalut warna jingga. angin yang sepoi sepoi. rasanya kenikmatan yang benar benar memenangkan untukku.

bermain bossa terlihat begitu sederhana, tinggal menyediakan gitar klasik, simbal, dan piano klasik. jadilah melodi indah yang biasanya bisa kita dapatkan di cafe cafe milik orang kelas atas. tapi kenyataannya tak semudah itu.

filsafat musik bossa kadang aku pikir mirip seperti bermain sepakbola, is a very simple game. it’s just very hard to play it simple. memang benar, seperti permainan sederhana tiki taka, bossa yang sering aku nikmati ini membuat tanganku mati rasa ketika memainkannya.

jadi teringatlah aku yang pertama kali melihat tutorial di youtube tentang bagaimana bermain bossa,yang aku temui hanya kord yang tidak pernah aku kenal. belum lagi ketika aku mulai membaca fingering gitarnya. semua kord yang terbaca hanya membuat kram dan mati rasa. benar benar permainan gitar yang luar biasa, luar biasa menyakitkan.

setelah 3 hari bergelut. biasanya aku selalu berhasil memainkan lagu apapun dalam waktu 3 hari dengan gitarku. tapi tidak dengan jenis musik ini. semakin lama yang kurasa semakin mati rasa dan mudah sekali kram saat memainkannya. siksaan di balik kesederhanaannya membuatku semakin takjub dengan ini.

toki asako, rafika duri, nouvelle vague, dan macam macam lainnya sudah menjadi daftar tetap dalam playerku untuk memberikan suaranya ketika aku membutuhkan ketenangan, kesepian, sama seperti lelaki lelaki yang lelah sepulang kerja, menikmati kesendirian dalam meja, yang hanya ditemani segelas wine dan dan airmata. yang kering sebelum lahir. hmmm. . .  tapi saya kadang ingin, kadang tak ingin sesunyi itu.

aku tak tahu,sampai kapan aku suka lagi ini. dia memiliki kesederhanaan yang menyimpan berbagai macam misteri. mendengarkannya, jelas seperti tadi , cafe cafe dan lelaki yang sepi. kadang juga gelap, remang remang.

yang pasti selalu ada nada yang tersembunyi, yang kadang kutemui, kadang berlalu pergi.ia tak benar benar pergi. dalam petik gitarnya,dalam suara penyanyi yang bernada panjang, atau dalam udara yang keluar dari terompet.

nada nada itu tetap sembunyi.

bossa, biar ia menenggelamkanku. dalam lelah yang berlalu pelan, malam ini.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: