Oleh: rizky abrian | Mei 18, 2012

angin

desau angin. pada dia lah aku kan menangis. pada ia yang mengembara ke seluruh penjuru bumi. yang tak lelah menghantarkan pesan, meski sering tak terbaca ke semua mahluk di bumi. yang tak pernah mengeluh mengirimkan bisikan meski kadang tak terdengar pada telinga-telinga yang dirindukan.

pada angin aku akan menangis. tanpa perlu ada orang yang tahu. Dan ketika aku menangis, dalam sekejap angin telah membawa airmataku. menyekanya dengan lembut dari pipi untuk di tebarkan ke seluruh udara.

jika airmataku terkumpul,aku percaya angin akan mengubahnya menjadi awan yang teduh,yang bayangannya bisa melindungi kita dari terik. dimanapun kita.

dan jika pesanku telah menggunung, aku percaya angin akan menjadikannya nyanyian lembut yang terdengar dari gesekan daun di hari yang tenang.

pada terpaan angin aku akan menangis. dan aku yakin. seperti setiap orang yang percaya sepertiku. percaya bahwa kesedihan mereka,airmata mereka,kata-kata yang tak sempat diucapkan, akan dibawa oleh angin menuju satu keberangkatan. yaitu wajah mereka yang kita rindukan dan yang  kita cintai. pabila angin tersebut datang padanya, mereka akan berhenti sejenak, merasakan lembutnya sambil memejamkan mata. kita pun datang di pikiran mereka, lalu  memudar ketika ia membuka mata.

Tapi pesan itu tak pernah sampai.

hatiku tahu aku remuk, tahu aku lebur. tapi aku lebih tahu dan sadar, bahwa yang tak diam denganku hanyalah waktu. dan aku harus tetap bersamanya dalam keadaan apapun. aku hanyalah kolase cerita. kecil. dan dunia akan tetap berputar meski aku terduduk di sudut yang gelap dan menangis.. karena itu aku harus tetap berlari,meski hanya bergandengan dengan waktu.

seandainya ada cara lain untuk melupakan kesedihan,bukan pada airmata atau hal-hal yang menyesakkan dada.

sayangnya dunia tak pernah sudi memainkan dongeng paling purba yang diidamkan setiap manusia : dan mereka pun hidup bahagia selama-lamanya. kita hanyalah korban waktu yang sekuat apapun kita berpegangan,pedangnya akan memutuskan jari- jari kita.

diatas atap mobil,angin terus mengambil airmataku.

aku percaya angin akan menyeka pipiku. karena itulah aku akan tetap tersenyum meski menangis,dan lebih tersenyum lagi saat bahagia.

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: