Oleh: rizky abrian | Maret 28, 2013

skripsi? skripsick? skripshit? skripsweet?

life is too short, why give up?

teman saya kemarin menyuruh saya untuk menuliskan sesuatu tentang skripsi, yang menurutnya adalah tema paling cocok untuk dibuat tulisan bagi kita yang sedang berada di momentum yang bernama semester akhir.

saya sendiri sempat bingung, apa yang akan saya tulis tentang hal ini. saya sendiri merasa hal ini terlalu tabu, bagi saya , membahas hal tentang skripsi pada saat semester akhir itu sama halnya dengan ngomong jorok,tabu,atau hal yang tak patut untuk dibahas. mendengar itu teman saya malah tertawa, “sudah nulis saja, bagi bagi pengalaman”. dan akhirnya saya sempatkan menulisnya sekarang.

pagi sebelum saya menulis ini, saya baru saja menemui, lebih tepatnya dicari oleh dosen pembimbing saya, setelah menghilang selama 2 minggu ketika teman-teman sebimbingan saya sedang pusing semua pekerjaan skripsinya mendapat revisi dari dosen itu.

sedang aku, masih harus berkutat pada mencari objek penelitian. seandainya ini sebuah perlombaan, ini adalah saat dimana teman-teman saya sudah menggeber kendaraannya ke tikungan kedua, sedangkan saya masih sibuk mencari cara bagaimana menghidupkan mesin.

well fuck enough, sepertinya dosen saya juga turut serta dalam proses menghambat saya untuk menghidupkan mesin itu untuk turut serta dalam balapan.

dan dengan rumitnya mencari objek penelitian itu, saya kadang merasa seperti tokoh wayang yang besar dan kuat itu, Bima, pada lakon dewaruci. suatu kisah dimana seorang guru yang ingin mencelakakan muridnya sendiri dengan memberi tugas yang sangat berat. pada kisah itu bima disuruh menembus hutan siluman, menyelam disamudera, yang menurut gurunya itu adalah tempat kamu menemukan ilmu tertinggi di dunia yang tak bisa mengalahkanmu. padahal yang sebenarnya, guru itu hanya membuat alasan supaya murid tersebut gagal dan celaka.

celakanya, sang murid begitu patuh dan tanpa curiga sama sekali langsung melaksanakan tugas yang sebenarnya untuk mencelakakan dirinya. bima mengalami bahaya ketika ia menyelam samudera dan menghadapi ular naga raksasa. bukannya menemui bencana, bima berhasil melaksanakan tugas gurunya tersebut dan malah mendapatkan pengalaman terhebat yang tidak bisa didapatkan tokoh manapun di dunia wayang. bertemu Tuhan.

Apakah karena kepatuhannya dan keikhlasannya dalam menuntut ilmu, apakah juga karena kegigihanya ketika ia menghadapi tugas yang sebenarnya sebuah rencana untuk membunuh dirinya sendiri, hingga ia mendapatkan sesuatu yang sebegitu prestisiusnya. entah,

hidup adalah buku gambar, masalah adalah warnanya. bagaimana kita menjadi pelukis yang baik yang menempatkan warna dengan cerdas dan tepat adalah yang sebenarnya Tuhan inginkan pada kita.

sama halnya dengan skripsi. mungkin saya yang mendapat skripsi dengan berat, mungkin mereka bisa lulus lebih cepat, mungkin saya harus duduk diam di depan lembaran draft ketika mereka sudah bisa tersenyum dengan toga mereka. kita tak pernah tahu. hidup terlalu cepat untuk dibuat menyerah, kalaupun kau lelah, ikuti saja aturan hidup mainkan sebisamu dan semampumu.

semangat, semoga kita bisa menjadi Bima yang mendapatkan kesuksesan sejati dibalik kesulitan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: