Oleh: rizky abrian | Agustus 19, 2015

Apresiasi

memang benar apa kata om rhenald tentang bagaimana orang indonesia dalam mengapresiasi. dalam artikelnya tentang apresiasi . beliau membandingkan antara sekolah dan main game. bagimana sekolah dan game pada hakikatnya adalah sama, masing-masing anak mendapat tugas dan harus dilaksanan dengan baik. yang membedakan adalah, sekolah membuat anak takut, takut nilai jelek lalu dimarahi, takut tidak naik kelas, takut bertanya, takut tidak lulus, takut gagal. sedangkan game, mereka daang dianggap sebagai seorang pejuang di medan pertempuran, kegagalan tidak membuat mereka takut atau putus asa,tapi semakin membuat mereka ketagihan untuk menyelesaikannya.

apresiasi, saya punya pengalaman waktu kecil bagaimana apresiasi adalah hal yang sangat sulit didapat. jaman sd saya adalah langganan rangking satu di kelas. namun orang tua yang mungkin, karena terlalu sering sehingga terbiasa melihat anaknya rangking satu, jadi menganggap biasa apa yang sudah dicapai anaknya itu. dan suatu ketika, tepatnya ketika jaman saya sedang senang-senangnya main PS. akhirnya saya mendapat ranking 3. orang tua memang tak memarahi langsung, tapi sikap sudah memperlihatkan bahwa saya sudah melakukan sebuah kegagalan besar, belum lagi tulisan guru di rapot yang menuliskan bahwa : kamu terlalu banyak main, terlalu banyak ini, itu, tidak pernah mengerjakan PR. bisa kalian bayangkan , seseorang yang sudah gagal, tidak dibesarkan hatinya, tidak dibantu mencari penyebab, malah dihakimi bahwa saya seorang yang gagal, dan gagalnya karena kamu begini dan begitu dan itu salah. siapa yang tidak takut dan kecil hatinya? beda dengan main game, ketika gagal ndak ditakut-takuit, malah diajak untuk mencoba lagi dan mencoba lagi.

itu cerita saya, kalau saya boleh melihat, mungkin krisis apresiasi juga dialami orang lain. saya melihat bagaimana selfie, bagaimana positngan teman-teman tentang keberhasilan mereka, mungkin bisa jadi karena apresiasi yang didapat dari sekitarnya gak cukup. keterima kuliah di posting, lagi ospek diposting, lagi ngerjakan tugas diposting, bikin skripsi (baru judul) diposting, ujian sidang juga, sampai wisuda (yang satu ini hampir semua pasti diposting). itu baru kuliah, belum yang lain-lain, keterima kerja, gaji pertama, gadget baru, kamera baru. mungkin saya bisa dianggap lebay, tapi percayalah, kalian pernah menemui orang yang seperti itu.

sekarang pun, untuk memenuhi dahaga saya akan apresiasi, pacar saya, sering ketika telpon, memuji-muji saya, entah  apapun, kadang memang beneran pujian dari orang lain yang diceritakan ke saya, atau kadang juga dibuat-buat saja supaya hati saya senang. kalau kata dia “ngasih makan ego” biar jiwanya stabil. ya benar juga, saya senang liat pacar saya begitu cerdas sampai bisa membuat treatment seperti itu.

saya juga masih penasaran, kenapa ya memuji itu kesannya kok susah sekali, tapi kalau disuruh mengkritik kegagalan orang, kok mudah sekali. ada yang tau?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: